Pada suatu hari di
awal-awal saat memulai bisnis dulu, saya ketemu masalah seperti ini: saya
janjian dengan 3 orang di Jakarta. Saat itu posisi saya di Jogja tanpa banyak
kenalan di Jakarta dan cekak banget dananya
Begini jadwalnya: Pak
A janji ketemu hari Senin siang, Pak B hari Rabu pagi dan Bu C di hari Jumat
sore. Jika saya mau gampang, saya harus berangkat naik kereta Minggu malam dan
menginap di Jakarta 5 hari dan pulang Jumat malam.
Sayanya yang bingung:
nginep dimana, biaya makannya dimana? Duh ribet, padahal janjiannya udah
di-arrange lama dan posisi orang yang mau saya temui itu Boss-boss semua untuk
penawaran kerjaan promosi. Saya harus mengikuti jadwal mereka, saya tak kuasa
menentukan jadwal karena saya yang butuh.
Pusinglah saya
memikirkan jadwal yang mustahil itu. Sampai seminggu menjelang harinya, saya
ketemu seorang teman,yang ilmu agamanya lumayan. Karena belum menemukan solusi,
saya pun curhat padanya. Teman saya mengangguk-angguk lalu bertanya,"Jadwal
sholatmu gimana?"
"Jadwal sholat?
Apa hubungannya?" saya keheranan.
"Sholat subuh jam
berapa?" tanpa menjawab pertanyaan saya, dia meneruskan pertanyaannya.
" Errr... Jam
setengah enam, jam enam. Sebangunnya lah.. Kenapa," jawab saya.
" Sholat dhuhur
jam berapa?"
"Dhuhur? Jadwal
sholat dhuhur ya jam 12 lah..." jawab saya.
"Bukan, jadwal
sholat dhuhurmu jam berapa?" ia terus mendesak.
" Oooh, jam dua
kadang setengah tiga biar langsung Asar. Eh, tapi apa hubungannya dengan
masalahku tadi?" saya makin heran.
Temen saya tersenyum
dan berkata,"Pantas jadwal hidupmu berantakan."
"Lhooo.. kok? Apa
hubungannya?" saya tambah bingung.
"Kamu bener mau
beresin masalahmu minggu depan ke Jakarta?" tanyanya lagi.
"Lha iya, makanya
saya tadi cerita...," saya menyahut.
"Beresin dulu
jadwal sholat wajibmu. Jangan terlambat sholat, jangan ditunda-tunda, klo bisa
jamaah," jawabnya.
"Kok..
hubungannya apa?" saya makin penasaran.
"Kerjain aja dulu kalo mau. Enggak juga
gak papa, yang punya masalah kan bukan aku...," jawabnya.
Saya pun pamit,
jawabannya tak memuaskan hati saya. Joko sembung naik ojek, pikir saya. Gak
nyambung, Jek. Saya pun mencari cara lain sambil mengumpulkan uang saku buat
berangkat yang emang mepet. Tapi sehari itu rasanya buntu, buntu banget. Sampai
saya berfikir, ok deh saya coba sarannya. Toh gak ada resiko apa-apa. Tapi
ternyata beratnya minta ampun, sholat tepat waktu berat jika kita terbiasa
malas-malasan, mengakhirkan pelaksanaannya. Tapi udahlah, tinggal enam hari
ini.
Dua hari berjalan, tak
terjadi apa-apa. Makin yakin saya bahwa saran teman saya itu tidak berguna.
Tapi pada hari ketiga, hp berdering. Dari asisten Pak A,"Mas, mohon maaf
sebelumnya. Tapi Pak A belum bisa ketemu hari Senin besok,. Ada rapat mendadak
dengan direksi. Saya belum tahu kapan bisa ketemunya, nanti saya kabari
lagi."
Di ujung telepon saya
ternganga, bukannya jadwal saya makin teratur ini malah ada kemungkinan
di-cancel. Makin jauh logika saya menemukan solusinya, tapi apa daya. Karena
bingung, saya pun terus melanjutkan sholat saya sesuai jadwalnya.
Di hari berikutnya, hp
saya berdering kembali. Dari sekretaris Pak B,"Mas, semoga belum beli
tiket ya? Pak B ternyata ada jadwal general check up Rabu depan jadinya gak
bisa ketemu. Tadi Bapak nanya bisa nggak ketemu Jumat aja, jamnya ngikut
Mas."
BACA JUGA : Kamu yang
Nantinya Jadi Masa Depanku,,,Maukah Menerima dan
Memaafkan Masa Laluku, Seburuk Apapun Itu...???
Yang ini saya
bener-bener terkejut. Jumat? Kan bareng harinya ama Bu C? Saya pun
menyahut,"O iya, tidak apa-apa Pak. Jumat pagi gitu, jam 9 bisa ya?"
Dari seberang sana dia
menjawab,"OK Mas, nanti saya sampaikan."
Syeep, batin saya
berteriak senang. Belum hilang rasa kaget saya, hp saya berbunyi lagi. Sebuah
sms masuk, bunyinya: Mas, Pak A minta ketemuannya hari Jumat setelah Jumatan.
Jam 13.30. Diusahakan ya Mas, tidak lama kok. 1 jam cukup.
Saya makin heran!
Tanpa campur tangan saya sama sekali, itu jadwal menyusun dirinya sendiri.
Jadilah saya berangkat Kamis malam, ketemu 3 orang di hari Jumat dan Jumat
malem bisa balik ke Jogja tanpa menginap!
Saya sujud
sesujud-sujudnya. Keajaiban model begini takkan bisa didapatkan dari Seven
Habits-nya Stephen Covey, tidak juga dari Eight Habbits. Hanya Allah yang kuasa
mengatur segala sesuatu dari arsy-Nya sana.
Sampai saya meyakin
satu hal yang sampai sekarang saya usahakan terus jalani: Dahulukan jadwal
waktumu untuk Tuhan maka Tuhan akan mengatur jadwal hidupmu sebaik-baiknya.
Karena saya muslim,
saya coba konfirmasikan ini ke beberapa teman non muslim dan mereka
menyetujuinya. Jika dalam hidup ini kita mengutamakan Tuhan, maka Tuhan akan
menjaga betul hidup kita. Tuhan itu mengikuti perlakuan kita kepadanya, makin
disiplin kita menyambut-Nya, makin bereslah jadwal hidup kita.
Jadi, kunci sukses
bisnis ke-3 yang saya bisa share ke teman-teman: Sholatlah tepat waktu,
usahakan jamaah. Jika mau lebih top, tambahin sholat sunnahnya: qobliyah,
bakdiyah, tahajjud, dhuha, semampunya.
Silakan dipraktekkan,
Insya Allah jadwal kehidupan kita (baik bisnis, keluarga maupun personal) akan
nyaman dijalani. Sampai hari ini, saya belum pernah berdoa lagi untuk menambah
24 jam sehari menjadi lebih banyak jamnya. 24 jam sehari itu sudah cukup, jika
kita tak hanya mengandalkan logika untuk mengaturnya. Tak kemrungsung, tak
buru-buru tapi tanggung jawab terjalani dengan baik.
Jika suatu hari saya
menemukan jadwal saya kembali berantakan, banyak tabrakan waktunya atau tidak
jelas karena menunggu konfirmasi terlalu lama: segera saya cek jadwal sholat
saya. Pasti disitulah masalahnya dan saya harus segera beresin sehingga jadwal
saya akan teratur lagi sebaik-baiknya.
Seperti teman-teman
sekalian, istiqomah alias konsisten menjalankan ini tentu banyak godaannya.
Tapi kalo gak pake godaan, pasti semua orang akan sukses dong. Jadi emang mesti
tough, kuat menjalaninya, jangan malas, jangan cengeng.

