Oleh: Syafruddin Ramly,
syafruddinramly@yahoo.com.au
DIKISAHKAN, seorang pedagang muslim yang disiplin dengan
agamanya senantiasa memerintahkan kepada para pegawai di toko-toko miliknya
agar senantiasa menunjukkan kepada para pembeli cacat yang ada pada
barang-barang yang dijual dan tidak boleh menyembunyikannya jika memang ada.
Suatu hari, datang seorang yahudi membeli satu helai pakaian
yang ada cacatnya, dan kebetulan si pemilik toko tidak sedang berada di
tokonya.
Pegawai toko berkata di dalam hati, “Orang yahudi aja kok,
ngapain juga jujur-jujuran sama yahudi gini, saya tidak perlu sibuk menunjukkan
cacat yang ada pada pakaian itu.” Dan pakaian itu pun terjual tanpa si yahudi
tau kalau pakaian tersebut ada cacatnya.
Selang beberapa saat pemilik toko datang dan menanyakan terkait
pakaian yang kelihatannya sudah terjual, karena sudah tidak ada lagi di
pajangan.
Anak buahnya menyampaikan kalau pakaian tersebut sudah dijual
kepada seorang yahudi dengan harga 3000 keping dirham, “Tapi saya sengaja tidak
menunjukkan cacat yang ada di pakaian itu.”
“Kok bisa?” sentak pedagang pemilik toko ini marah pada anak
buahnya. “Sekarang pembeli itu ada dimana, runjukkan padaku.”
Anak buahnya menjawab, “Pembeli itu sudah pulang bersama kafilah
dagangnya.”
Lalu pemilik toko ini mengambil uang secukupnya dan bergegas
menyusul kafilah yahudi tadi. Setelah melakukan perjalanan berkuda selama tiga
hari, akhirnya pedagang ini dapat menyusul kafilah yahudi dan bertemu dengan
yahudi si pembeli pakaiannya itu.
Si Pedagang menyampaikan bahwa pakian yang dibelinya itu ada
cacatnya, “Dan silahkan ambil kembali uangmu dan balikin kembali pakaian yang
ada cacatnya itu.”
Sang yahudi terheran dan bertanya, “Apa yang memotivasimu untuk
melakukan ini semua?”
“Islam,” jawab Pedagang muslim disiplin ini. “Rasul berkata,
orang-orang yang curang bukanlah termasuk dari golongan kami. Saya tidak mau
dikeluarkan dari agama yang saya anut hanya karena menyembunyikan cacat yang
ada di pakaian itu, yang menurut agama kami masuk dalam kategori menipu,”
tambah si pedagang.
Mendapatkan jawaban itu, yahudi itupun berkata, “Uang 3000
dirham yang kubayarkan pada penjual di tokomu itu juga uang palsu, silahkan
ambil 3000 dirham uang benaran ini untukmu. Lebih dari itu, saya bersaksi bahwa
tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, sekarang saya adalah
saudara seagamamu.”
Merekapun akhirnya berpelukan

