Seorang
pemuda Amerika berusia 19 tahun, Mason Wells telah menjadi korban ledakan di
Bandara Brussel. Pria itu telah menjadi perhatian karena sebelumnya dia juga
menjadi korban bom Boston dan teror Paris.
Media
Internasional maupun Nasional banyak memberitakan tentang pemuda itu, bahkan
telah menjadi spekulasi apakah dia menjadi orang yang paling beruntung atau
paling sial di Dunia.
Namun,
nampaknya media terlalu
membesar-besarkan dari apa yang dialami oleh Mason. Dari ketiga peristiwa yang
terkait sebenarnya hanya kebetulan saja, tidak seperti cerita yang beredar yang
cukup fantastis.
Pada
kejadian Boston 2013,
Mason datang sebagai penonton untuk menyaksikan ibunya, Kymberly Wells yang terdaftar sebagai peserta lari.
Tapi posisinya saat itu cukup jauh dari lokasi ledakan (sekitar satu
kilometer), dia hanya merasakan getaran dari ledakan yang terjadi saat itu.
Pada
tragedi serangan Paris 13
November 2015, Mason memang sedang berada di Perancis. Namun bukan di Kota
Paris, dia berada cukup jauh yang jaraknya sekitar 2 jam perjalanan dari Paris.
Jadi, dia berada di tempat aman dari lokasi serangan di Kota Paris.
Pada
hari Selasa lalu Mason terluka akibat serangan bom bunuh diri di Bandara
Brussel. Cerita tentang pemuda Amerika yang selamat di tiga lokasi teror
berbeda terlalu di dramatisir dan sangat berlebihan, cerita itu nampaknya
dikembangkan agar menjadi headline dan dengan mudahnya dapat diterima
masyarakat Dunia.
Chad Wells mengatakan bahwa dia dan
anaknya, Mason Wells berada cukup jauh satu blok dari tempat kejadian bom
Boston pada tahun 2013. Mereka berdua datang untuk menyaksikan Ibunya
Wells yang ikut serta dalam perlombaan lari maraton Boston. Tidak ada
satu pun dari mereka yang terluka, tapi mereka merasakan getarannya. Mason juga
berada jauh dari Paris ketika serangkain serangan di kota itu.
Berita
yang beredar hanyalah sebuah pola dramatisasi untuk menarik perhatian pembaca.
Apa yang dialami Wells ketika menjadi korban serangan di Bandara Brussels telah
dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk mencari sensasi, walaupun sebenarnya
semua peristiwa itu tidak ada keterkaitannya dengan Mason Wells.

