Pada umumnya kita mengenal Romeo dan Juliet yang kisah cintanya
sangat romantis. Tapi, tahukah Anda bahwa umat muslim mempunyai sosok yang
kisah cintanya lebih romantis daripada Romeo dan Juliet? Berikut ini 4 kisah
cinta yang lebih romantis daripada kisah Romeo dan Juliet.
1.
Nabi Muhammad SAW dan Siti Aisyah ra
Nabi Muhammad adalah sebaik-baiknya contoh. Termasuk dalam urusan cinta, utusan Allah SWT ini juga memberikan teladan terbaiknya. Kisah cinta Nabi Muhammad SAW dengan Siti Aisyah berikut ini juga menjadi sebaik-baiknya kisah cinta.
Nabi Muhammad adalah sebaik-baiknya contoh. Termasuk dalam urusan cinta, utusan Allah SWT ini juga memberikan teladan terbaiknya. Kisah cinta Nabi Muhammad SAW dengan Siti Aisyah berikut ini juga menjadi sebaik-baiknya kisah cinta.
Bagaimana tidak, mereka dipersatukan
dalam kisah pernikahan hingga dijanjikan Allah akan kembali berkumpul di surga.
Apalagi yang lebih indah selain janji surga dan berkumpul belahan jiwa?
Kisah ini pula lah yang penuh pro dan
kontra. Para pembenci Nabi selalu mengatakan bahwa Rasulullah begitu tega
menikahi gadis kecil yang masih belia. Namun tidak begitu adanya.
Terbukti dalam hidupnya Aisyah tidak
pernah sekalipun mengeluh menikah dengan Nabi. Dari sekitar 2200 hadist yang
diriwayatkan kepadanya, tidak ada yang membicarakan hal buruk tentang suaminya.
Bahkan selama hidupnya, Aisyah tidak pernah mencari pengganti Rasulullah SAW.
Ia masih merasa seolah-olah Nabi masih hidup dan menemani perjuangannya.
Nabi Muhammad SAW juga sangat mencintai
Aisyah. Bahkan hingga akhir hidupnya, Beliau memilih untuk meninggal di rumah
Aisyah dan menghembuskan nafas terakhir di pangkuan wanita kecintaannya
tersebut.
Mereka dipersatukan oleh keluarga yang
menginginkan agar tali silaturahmi antar keluarga terikat erat. Sang Ayah Abu
Bakar As Siddiq lah yang meminta langsung agar Rasulullah menikahi anaknya.
Tidak ada drama kebencian antar keluarga layaknya Remeo dan Juliet. Namun
mereka dipersatukan oleh kasih sayang keluarga.
Aisyah tumbuh menjadi dewasa di bawah
pengasuhan manusia paling dicintai oleh Sang Pencipta. Bahkan saat bersamanya
Allah SWT sering menurunkan wahyu kepada Rasulullah. Keduanya kemudian
dijanjikan Allah berkumpul di surga kelak.
2.
Nabi Muhammad dan Siti Khadijah
Selain Aisyah ra, perjalanan cinta Siti Khadijah dengan Nabi Muhammad juga tidak kalah romantisnya. Bahkan, Khadijah menjadi satu-satunya Istri Nabi Muhammad yang tidak pernah di madu.
Selain Aisyah ra, perjalanan cinta Siti Khadijah dengan Nabi Muhammad juga tidak kalah romantisnya. Bahkan, Khadijah menjadi satu-satunya Istri Nabi Muhammad yang tidak pernah di madu.
Mereka dipersatukan karena Allah. Meski
berbeda usia, dimana Nabi kala itu berusia 25 tahun dan khadijah 40 tahun,
namun tidak membuat jurang pemisah diantaranya keduanya untuk bersatu.
Bahkan, Khadijah menjadi orang pertama
yang mendukung Rasul ketika orang lain mendustakannya. Dia juga yang rela
memberikan hartanya kepada Rasul untuk berjuang di jalan Allah. Wanita ini lah
yang menyerahkan hidupnya untuk sang suami.
Tidak ada wanita lain ketika mereka
hidup bersama. Nabi Muhammad begitu menderita ketika orang yang sangat
dicintainya ini meninggal dunia. Bahkan tahun itu disebut dengan tahun duka
cita atau Aamul Huzni.
Memiliki istri semulia Khadijah ra.
adalah salah satu anugerah terindah dalam kehidupan Rosulullah saw. Dialah
wanita teristimewa yang sangat dicintai Nabi saw, dia telah mendampingi Nabi
selama seperempat abad tanpa mengeluh, menghapus resah dan kekhawatiran sang
suami di saat-saat kritis di tengah intimidasi kaum kafir Quraisy, menopang
finansial da’wah dengan kapasitas bisnisnya, sabar mendampingi Nabi di kala
jihad yang berat, membelanya dengan kemuliaan nasab, dll.
Apa kisah paling sedih selain ditinggal
belahan jiwa yang selalu menemaninya setiap hari? Bahkan Nabi tidak berniat
menikah lagi sepeninggal Khadijah. Namun Allah memerintahkannya untuk menikah.
Setelah pernikahannya pun, Nabi tetap menjalin tali silaturahmi kepada
teman-teman Khadijah. Bahkan Aisyah pernah diliputi rasa cemburu terhadap
Khadijah karena kecintaan Rasul kepada istri pertamanya tidak pernah hilang.
3.
Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra
Kisah cinta yang tidak kalah hebatnya adalah perjalanan cinta Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra. Mereka juga dipersatukan dengan ikatan pernikahan yang begitu indah.
Kisah cinta yang tidak kalah hebatnya adalah perjalanan cinta Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra. Mereka juga dipersatukan dengan ikatan pernikahan yang begitu indah.
Fathimah merupakan putri kesayangan
Rasulullah. Ali bin Abi Thalib sejak awal mencintai sahabat kecilnya tersebut.
Namun, apalah daya karena ternyata banyak juga pria lain yang lebih berkelas
dari dirinya menginginkan untuk mempersunting putri Rasulullah tersebut.
Mulai dari Abu Bakar As Siddiq, sahabat
dekat Rasulullah serta Umar bin Khattab yang begitu disegani. Namun ternyata,
Rasulullah menolak lamaran dari kedua pria berpengaruh dalam hidup Rasul
tersebut. Sang Nabi justru menunggu pinangan dari pria yang merasa dirinya
biasanya saja dibanding para pelamar sebelumnya.
Ya, ternyata Nabi Muhammad SAW mendapat
petunjuk dari Allah bahwa putrinya harus dinikahkan dengan Ali bin Abi Thalib.
Begitu indahnya, karena Allah langsung yang memberi restu mereka untuk menjalin
sebuah hubungan pernikahan.
4.
Zainab dan Abil Ash bin Rabi
Zainab merupakan salah satu putri Rasulullah SAW. Ia meninggalkan kisah cinta yang begitu mendalam. Setelah memasuki usia pernikahan, sang bibi, Halah binti Khuwailid, saudara Ummul Mu’minin Khadijah meminang untuk puteranya, Abil Ash bin Rabi’.
Zainab merupakan salah satu putri Rasulullah SAW. Ia meninggalkan kisah cinta yang begitu mendalam. Setelah memasuki usia pernikahan, sang bibi, Halah binti Khuwailid, saudara Ummul Mu’minin Khadijah meminang untuk puteranya, Abil Ash bin Rabi’.
Semua pihak ternyata setuju dengan
perjodohan ini. Saat pernikahannya, sang Ibu Siti Khadijah memberikan kalung
sebagai hadiah dan ungkapan tanda sayang kepada Zainab.
Pernikahan ini terjadi sebelum masa
kenabian. Kemudian, setelah Rasulullah diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Zainab
pun beriman dan memeluk Islam. Namun tidak demikian dengan sang suami yang
memilih untuk tetap teguh pada kepercayaan sebelumnya. Maka kedua suami isteri
itu merasa bahwa kekuatan yang lebih kuat dari cinta mereka berusaha memisahkan
antara keduanya.
Abil Ash bin Rabi masih membangkang dan
tidak mau meninggalkan kepercayannya, sedangkan Fatimah, juga tidak ingin
meninggalkan Islam. Bahkan Zainab secara tegas meminta suaminya agar
menyerahkannya kembali pada sang ayah.
Hari-hari berlalu dalam keadaan ini
setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Pasukan Quraisy berangkat menuju Badr
untuk memerangi Rasul SAW dan di antara mereka terdapat Abil Ash bin Rabi’,
bukan untuk menyatakan ke-Islamannya, tetapi untuk memerangi Rasul SAW. Situasi
menjadi kritis ketika Abil Ash jatuh menjadi tawanan di tangan kaum Muslimin di
bawah pimpinan Rasulullah SAW di Madinah.
Kemudian kaum Quraisy mengutus orang
untuk menebus tawanan-tawanannya. Zainab pun mengirimkan harta dan sebuah
kalung untuk menebus tawanannya, Abil Ash bin Rabi’. Ketika Rasulullah SAW
melihat kalung itu, beliau merasa iba hatinya dan bersabda :”Jika kalian tidak
keberatanmelepaskan tawanan dan mengembalikan harta miliknya, maka lakukanlah.”
Mereka menjawab :”Baiklah, wahai
Rasulullah.” Kemudian mereka melepaskannya dan mengembalikan harta milik
Zainab. Di sini Rasulullah SAW mendapat janji dari Abil Ash untuk membebaskan
Zainab dan mengembalikannya kepada beliau di Madinah.
Ash kembali ke Mekkah dan di dalam
jiwanya terdapat gambaran yang lebih cemerlang dari isteri yang berbakti dan
mulia ini. Namun Ia tetap pada tekadnya untuk mengembalikan Zainab kepada
ayahnya.
“Kembalilah kepada ayahmu, wahai
Zainab.”
Tentu saja Abil Ash tidak kuasa menahan
tangisnya mengingat bahwa Ia tahu jika pertemuan tersebut adalah yang terakhir
bagi keduanya. Akhirnya Zainab diantarkan untuk bertemu Rasul dengan perasaan
campur aduk.
Meski lama terpisah karena agama,
keduanya kemudian dipersatukan kembali oleh agama. Abil Ash kemudian masuk
islam dan keduanya hidup kembali seperti suami istri. Sayang, tidak berselang
lama mereka kembali terpisah karena Zainab meninggal dunia.[]

