Pada Februari 2015,
Fransisca Monica, di atas sepeda motor yang ia kendarai, tak terasa air matanya
menetes dan berderai. Secara spontan, ia mengucapkan dua kalimat syahadat,
mengakui Allah SWT sebagai Tuhan dan Muhammad SAW adalah utusan-Nya.
"Saya tak tahu ternyata syahadat harus ada saksi dan bukti tertulis," katanya kepada Republika.co,id, belum lama ini mengisahkan perjalanannya memeluk Islam.
Tangisan itu bukan tanpa sebab. Selama puluhan tahun, ia mengamati dan mengkaji risalah yang diturunkan kepada Muhammad SAW ini.
Ketertarikan Monica, begitu akrab disapa, terhadap Islam tumbuh sejak 20 tahun lalu, sewaktu ia masih duduk di bangku kuliah, kira-kira 1993-an.
Bagi Fransisca Monica, Islam bukan agama asing. Lingkungan sekitarnya mayoritas Muslim.
Bahkan, dorongan sahabatnya agar ia segera berislam, pernah sesekali muncul. Akan tetapi, ia tak bisa mengiyakan begitu saja. Hati kecilnya masih berontak.
Ia begitu penasaran dengan sikap dan pendirian Muslim yang menentang ketuhanan Yesus. Meski ia tak berani mengungkapkan perasaan itu, ia benar-benar menyimpannya.
Jawaban demi jawaban gagal meredam rasa yang mengganjal tersebut. Akhirnya, ia pun berpikir ketika itu, mereka belum dapat hidayah hingga berani menolak konsepsi ketuhanan di agama yang ia anut dulu. "Seiring berjalannya waktu saya lupa akan pertanyaan itu," katanya.
Namun, tiga tahun lalu, ia bertemu dengan Muslim yang interaktif dan bisa berdiskusi soal agama.
Diskusi agama
"Saya tak tahu ternyata syahadat harus ada saksi dan bukti tertulis," katanya kepada Republika.co,id, belum lama ini mengisahkan perjalanannya memeluk Islam.
Tangisan itu bukan tanpa sebab. Selama puluhan tahun, ia mengamati dan mengkaji risalah yang diturunkan kepada Muhammad SAW ini.
Ketertarikan Monica, begitu akrab disapa, terhadap Islam tumbuh sejak 20 tahun lalu, sewaktu ia masih duduk di bangku kuliah, kira-kira 1993-an.
Bagi Fransisca Monica, Islam bukan agama asing. Lingkungan sekitarnya mayoritas Muslim.
Bahkan, dorongan sahabatnya agar ia segera berislam, pernah sesekali muncul. Akan tetapi, ia tak bisa mengiyakan begitu saja. Hati kecilnya masih berontak.
Ia begitu penasaran dengan sikap dan pendirian Muslim yang menentang ketuhanan Yesus. Meski ia tak berani mengungkapkan perasaan itu, ia benar-benar menyimpannya.
Jawaban demi jawaban gagal meredam rasa yang mengganjal tersebut. Akhirnya, ia pun berpikir ketika itu, mereka belum dapat hidayah hingga berani menolak konsepsi ketuhanan di agama yang ia anut dulu. "Seiring berjalannya waktu saya lupa akan pertanyaan itu," katanya.
Namun, tiga tahun lalu, ia bertemu dengan Muslim yang interaktif dan bisa berdiskusi soal agama.
Diskusi agama
Perempuan kelahiran 1975 ini
menuturkan, bersama temannya bukan hanya tema terkait Islam melainkan tentang
agama-agama.
Dari sinilah, rasa penasarannya ihwal segala sesuatu
bertambah. Tentu, perhatian utamanya tertuju pada studi agama, termasuk agama
yang pernah ia anut dulu, yaitu Protestan.
Diskusi terus berlanjut. Pada titik tertentu, ia kembali
teringat persoalan yang selalu mengganjal di benaknya, yaitu mengapa Muslim
menentang ketuhanan Yesus?
Sang teman menyarankan Monica membaca terjemahan ayat
Alquran secara utuh. Tidak setengah-setengah.
Syahdan, saran sang teman terbukti. Perlahan tapi pasti,
ia mendapatkan jawaban-jawaban atas kegamangan dan penasarannya selama ini dan
tak terkecuali ihwal keyakinan yang pernah ia anut
sebelumnya.
Keyakinan terhadap Islam pun semakin mengkristal. Dan,
air mata yang menetes adalah buah dari sentuhan iman yang berlabuh di hati
Monica. Juli 2015, di hadapan saksi dan Mualaf Center Indonesia (MCI) secara
resmi, ia memproklamirkan diri sebagai Muslimah.
Penolakan
Keputusan Monica memeluk Islam
tidak mendapat dukungan dari pihak keluarga. Anak ke empat dari lima bersaudara
ini berkisah, keluarga besarnya sempat marah besar dan meminta ia kembali ke
agamanya terdahulu.
Keluarganya tidak memaksa, hanya mencoba merangkul
kembali, inilah yang membuat silaturahimnya dengan keluarga masih terjalin
dengan baik, hingga detik ini.
Namun, sekitar satu pekan yang lalu ia sempat diusir
saudaranya karena kepergok mengenakan hijab.
Monica berhijab sejak Ramadhan tahun ini. Ia menyadari
hijab adalah perintah Allah untuk Muslimah, dan ia ingin menjadi pribadi yang
taat dalam apa pun, termasuk hijab.
"Akhirnya saya pergi aja. Ini harga yang harus saya
bayar. Saya tidak ingin ribut," ujar perempuan berdarah Batak ini.
Doanya kini, teruntai utuk keluarga mungilnya. Sang suami
dan tiga buah hatinya. Ia berdoa agar hidayah juga menghampiri suami
tercintanya.
Ia tetap mempertahankan pernikahannya, di tengah-tengah
desakan agar dirinya bercerai. Bagi Monica, ia menikah dengan cara baik-baik
dan tidak ingin gegabah melabuhkan bahtera rumah tangganya.
Ia percaya, suatu saat nanti hidayah Allah akan
menghampiri keluarga kecilnya walaupun ia sendiri tidak pernah tahu kapan hal
itu akan terjadi. Ia hanya bisa berpasrah mengenai nasib rumah tangganya
sembari meminta yang terbaik kepada Sang Kuasa.
Alhamdulillah, si kembar yang berusia 9 tahun, telah
mengikuti jejaknya memeluk Islam tanpa paksaan.
Agama yang Mengajarkan Kedisiplinan
Ada banyak pelajaran yang diperoleh perempuan berusia 41
tahun ini setelah memeluk Islam. Salah satu hal yang sangat berkesan yakni
Islam mengajarkan kedisiplinan yang tinggi. "Allah membuat aturan yang
luar biasa," katanya.
Allah mengatur kehidupan umat manusia dari bangun tidur
hingga memejamkan matanya kembali di malam hari. Semua ada aturan dan tata
caranya. "Minimal lima kali dalam sehari kita beribadah," ujarnya.
Islam mengajarkan agar manusia kembali ke fitrahnya.
Bahwa tanpa kerja keras maka manusia tidak mendapatkan apa-apa. "Kita akan
mendapatkan pahala sesuai dengan kebaikan yang kita lakukan."
Bahkan, keberadaan Ramadhan setahun sekali, juga bagian
dari kompleksitas aturan yang mengagumkan itu. Baginya, Islam telah mengubah
pola pikir dan cara menjalani kehidupan.
Menurut Monica, kasih sayang Allah kepada umat manusia
begitu besar. Namun, terkadang manusia sering melupakan hal itu.
Jika manusia lalai dalam beribadah maka yang rugi adalah
dirinya sendiri, karena hakikatnya Allah tidak membutuhkan hal tersebut. Jika,
manusia taat kepada-Nya, insya Allah hidup dipenuhi dengan nikmat dan
keberkahan.
Sumber : republika

