menjadi warna tersendiri di setiap investasi. Istilahnya, gue
dapat apa jika gue ngasih lu dana? Mengungkung diri bersama layar-layar
pergerakan jual beli saham. Iming-iming tingkatan sejumlah uang dari setiap
keuntungan perusahaan menjadi keyakinan para investor untuk menanamkan modal.
Dari yang “baru kenalan” dengan saham atau bahkan orang yang “sudah menikahi”
saham dibuat mabuk kepayang.
Ironis, beberapa orang menjadi korban penipuan atas investasi
bodong yang nggak jelas asal-usulnya. Kekayaan dieksploitasi besar-besaran demi
tujuan melipatgandakan, namun berakhir sesenggukkan. Tak peduli dari pinjam
sana-sini. Toh, slogan mereka tetap sama, “asal besar balik modalnya, tak
masalah nyediain uang berapa saja”.
Terkadang manusia lalai terhadap risiko yang bisa diterima kapan
saja, seperti kerugian akibat penurunan nilai investasi dan kebangkrutan yang
dapat mengancam hilangnya uang yang dimasukkan. Orientasi pada deretan angka
kerap melenakan rasional.
Berbeda ketika investasi bukan atas nama dunia. Tentu, kerugian
tidak pernah menyapa. Sayang, invetsasi ini sering diabaikan, enggan dipandang,
bahkan memicingkan mata karena terpaksa. Ialah investasi akhirat (red: sedekah
dan infaq).
Tampak jelas bukti orang-orang yang rakus akan kekayaan. Mengapa?
Karena manusia lebih suka fast return (instan dalam keterwujudan) dibandingkan
sesuatu hal dari Invisible hand (milik Tuhan). Padahal itu amat baik untuk
mereka. Sungguh, investasi akhirat tidak akan pernah merugi. “Perumpamaan orang
yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan
tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi
siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (Qs.
Al-Baqarah:261)
Banyak bukan? Lalu apa yang menahan langkah kakimu untuk
bersedekah di jalan-Nya, wahai anak Adam? Mari bermuhasabah diri dengan firman
yang satu ini, “Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang
Diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik
bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yag mereka
kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari kiamat. Milik Allah-lah
warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Maha Teliti terhadap apa
yang kamu kerjakan (Qs. Ali Imran: 180).
Anak Adam, harta yang kita dapatkan sekedar titipan untuk modal
berbagi kebaikan. Sikap kikir, tamak, dan pelit terlalu berlebihan untuk
mengekang harta yang istilahnya bukan milik kita secara utuh. Ingat, semua
hanya titipan yang kelak Pemilik meminta pertanggungjawaban.
Rasulullah SAW pernah bersabda, “Dan orang-orang yang bakhil
(kikir) itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat pula
pada neraka” (HR. At-Tirmidzi).
Naudzubillah, yuk investasi akhirat, agar Allah senantiasa dekat
dan mencurahkan rahmat. Landasi dengan sikap ikhlas supaya bermanfaat, sebab
keikhlasanmu menjadi sayap-sayap kehalalan bagi mereka dan pahala untukmu juga.

