Oleh : Ns Risno
ensrisno@gmail.com
Dalam menjalankan amal kebaikan,yang terberat itu adalah menjaga
istiqomah.Memulai suatu kebaikan itu juga berat namun menjaga agar apa yang
sudah dimulai tetap istiqomah tentunya lebih berat lagi.
Bagi yang belum terbiasa mengerjakan sholat fardhu berjamaah
dimasjid,untuk memulainya sangatlah berat. Namun menjaga istiqomah dari apa
yang sudah dimulai, yakni sholat fardhu berjamaah dimasjid tentunya lebih berat
lagi.
Bangun di sepertiga malam lalu mengerjakan sholat
tahajud,memulainya tentu saja tidaklah ringan. Namun lebih tidak ringan lagi
adalah menjaga agar bangun disepertiga malam lalu mengerjakan sholat tahajudnya
tetap istiqomah.
Sama juga ketika kita menjalankan ibadah puasa. Menjaga mulut,
mata, hidung, telinga, tangan, kaki dan hati agar tidak melakukan maksiat
kepada Allah, itu beratnya minta ampun. Namun lebih berat lagi adalah tetap
istiqomah menjaga mulut, mata, telinga, hidung, tangan kaki dan hati agar tidak
maksiat meskipun bulan sudah tidak lagi Ramadhan.
Untuk memulai suatu kebaikan,setelah ilmu dibutuhkan kemauan
yang kuat untuk menjalankan. Sedangkan agar tetap istiqomah di jalan kebaikan
di samping ilmu dan kemauan dibutuhkan kesabaran dalam menjalankan kebaikan tersebut.
Karena, pastilah setiap orang yang menempuh jalan kebaikan tidak
dapat dihindari adanya godaan yang merintangi jalan yang dilaluinya. Nah, tidak
adanya kesabaran inilah yang kerap menjadikan para penempuh jalan kebenaran
tanggal istiqomahnya dan akhirnya banting setir belok haluan.
Karena itulah ketika Rasulullah ditanya, “Wahai
Rasulullah,katakan kepadaku suatu perkataan tentang Islam, yang tidak mungkin
aku tanyakan kepada siapa pun selain kepadamu.”
Rasulullah menjawab, “Katakan : ‘Aku beriman kepada Allah, lalu
istiqomahlah’,” (HR. Muslim).

