Umat merupakan pokok utama bagi kita untuk mensejahterakannya.
Walau kita tahu, pada hakikatnya Allah SWT-lah yang memberikan kesejahteraan
itu. Tetapi, tentunya kita membutuhkan perantara. Dan haruslah ada orang yang
berdiri di depan demi membangun kepentingan umat. Salah satunya menjadi seorang
bicara bagi kepentingan umat.
Dulu, juru bicara yang mewakili masyarakat untuk menyampaikan
aspirasi mereka adalah orang yang berakal budi, bijaksana dan fasih. Nanti,
akan datang satu masa yang ketika itu moral masyarakat sudah bobrok. Sehingga,
yang menjadi juru bicara dan penyambung lidah mereka adalah ar-Ruwaibidhah,
yaitu orang yang tak bermoral dan tak berilmu.
Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Kelak,
manusia akan menghadapi satu masa yang ketika hujan sering turun namun tak ada
satu pun tanaman yang bisa tumbuh. Pada saat itu, seorang pendusta dianggap
jujur, orang yang jujur dianggap pembohong, pengkhianat dipercaya, orang yang
bisa dipercaya dianggap pengkhianat, dan ar-Ruwaibidhah akan menjadi penyambung
lidah masyarakat.”
Seorang sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan
ar-Ruwaibidhah?” Nabi menjawab, “Orang tak berilmu yang berbicara tentang
urusan masyarakat,” (Menurut al-Hutsaimi, hadis ini diriwayatkan oleh Imam
Thabrani. Di dalam sanadnya terdapat seorang mudallis [pemalsu hadis] bernama
Ibnu Ishaq. Sementara perawi lainnya adalah sosok-sosok yang tsiqah
[terpercaya]).
Salah satu ciri zaman ini adalah tampilnya orang-orang tak
bermartabat di tengah-tengah masyarakat, mengalahkan sosok-sosok terbaik
mereka. Sehingga, semua urusan mereka pun berada di tangan orang-orang bodoh
dan tak bermartabat itu. Sekarang, fenomena ini sudah terjadi di mana-mana.
Seharusnya, orang yang berilmu, berakal budi, dan memiliki
keahlianlah yang lebih berhak untuk menangani dan mengelola urusan masyarakat.
Namun, pada saat ini, kita bisa melihat bahwa orang sekarang lebih mendahulukan
hawa nafsu dan kepentingan pribadinya, meski harus menjual agama mereka. Karena
itulah, mereka lebih memilih orang-orang bodoh yang tak bermartabat menjadi
pemimpin. []
Referensi: Kiamat Sudah
Dekat?/Karya: Dr. Muhammad Al-‘Areifi/Penerbit: Qisthi Press

